Awal Penghujan, Warga Ramai-ramai Berburu Kepompong  

image
Warga tengah mencari kepompong jati di tengah hutan

kotatuban.com-Awal musim penguhujan menjadi berkah tersendiri bagi warga sekitar hutan jati di Kabupaten Tuban. Saat musim seperti ini ulat jati yang sudah tua turun untuk berkepompong. Sebagian warga memanfaatkan berburu metamorfosis (perubahan) ulat menjad kepompng sebelum terbang menjadi kupu-kupu.

Warga biasaya memanfaatkan kepompong ulat jati untuk dimasak sebagai lauk pelengkap nasi. Ditumis dengan bumbu lengkap maupun sekedar digoreng dengan garam. Bagi para penikmat kuliner musiman ini, rasa kepompong sudah cukup nikmat apalagi disantap siang hari. Namun, jangan sembarangan mengkonsumsi makanan ini bagi orang yang memiliki alergi, jika tidak ingin gatal-gatal usai memakan kepompong.

“Nanti digoreng, kadang ya ditumis. Dimasak dengan garam saja sudah gurih rasanya,” kata Ngasmi (36), Warga Nguluhan, Kecamatan Montong.

Ditambahkan, kepompong tidak hanya dimasak untuk dikonsumsi sendiri, bahkan hasil buruan ini biasanya dijual kepada warga lain.

“Kalau ada yang mau ya dijual, malah kadang ada orang dari jauh yang bawa mobil berhenti untuk beli kepompong,“ terang Ngasmi.

Untuk harga kepompog, warga tidak mematok secara khusus. Menurut mereka hasil buruan dengan cara mengais daun jati tempat ulat berkepompong cukup dihargai sepantasnya oleh para pembeli.

“Kadang ya dibeli mas, tidak tahu orang mana, mereka biasanya bawa mobil berhenti di tempat orang kumpul cari kepompong. Kemarin satu plastik dikasih uang Rp50 ribu, gak tahu berapa kilo itu,” terang wanita yang mencari kepompong bersama anaknya itu.

Sementara, Siti Aisyah, warga Kecamatan Montong lainnya, mengaku gemar makan kepompong. Setiap musim seperti sekarang ini, dirinya hampir selalu membeli kepompong.

“Biasanya beli Mas, ya gak sempat cari sendiri, nanti siapa yang jaga warung,” kata Aisyah.

Menurut dia,kepompong yang dibeli dari pencari kepompong akan digoreng. Biar awet biasanya kepompong dikukus setelah dibersihkan dan disimpan dalam lemari pendingin.

“Biasanya dimasak sedikit sedikit, kalo kebanyakan takut alergi, lagian yang doyan cuma saya sama suami, anak-anak gak ada yang mau,” terang warga Desa Pucangan,  pemilik warung di sisi jalan Merakurak- Montong itu. (kim)

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban