Berawal Dari Saluran Air, Berakhir Dengan Pertumpahan Darah

image
Ilustras

kotatuban.com – Pertumpahan darah kembali terjadi di wilayah Kecamatan Kerek, Selasa (22/03). Kali ini kasus penganiayaan dialami Jiyat (46), seorang petani asal Dusun Gesikan, Desa Gemulung, Kecamatan Kerek, mengalami luka menganga di bagian rahangnya setelah dibacok oleh tetangganya sendiri.

Akibat pembacokan itu, Jiyat langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Sedangkan, Lugito (23), pelaku pembacokan yang masih tetangga korban dan barang bukti diamankan petugas.

Dari informasi yang dihimpun  kotatuban.com, kasus penganiayaan tersebut berawal saat korban mempunyai perselisihan dengan keluarga pelaku. Perselisihan itu diduga dipicu akibat dari pipa saluran air untuk irigasi lahan pertanian yang ada di desa setempat.

Akibat, perselisihan tersebut pelaku merasa tidak terima dan tersingung dengan korban. Kemudian Lugito langsung mendatangi rumah korban dengan membawa sebilah pedang. Tanpa basa-basi pemuda tersebut langsung membacok Jiyat saat korban sedang duduk di depan rumahnya.

”Korban saat itu berada di rumah dan didatangi oleh pelaku. Menurut pengakuan pelaku, korban yang sedang duduk langsung dibacok dari belakang,” terang Kapolsek Kerek AKP Tamami, Selasa (22/03).

Menurutnya, pelaku yang masih tetangga dekat dengan korban itu hanya satu kali membacok Jiyat. Meski demikian korban mengalami luka yang sangat parah di bagian rahang bagian kiri dengan luka terbuka hingga beberapa centimeter.

”Setelah membacok satu kali pelaku langsung meninggalkan korban. Selanjutnya korban langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan,” ujarnya.

Setelah melakukan pembacokan, pelaku langsung menyerahkan diri kepada pihak kepolisian Polsek Kerek. Saat ini, Lugito sudah diamankan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

”Pelaku sudah kita amankan bersama dengan barang buktinya, pedang. Saat ini pelaku masih dalam pemeriksaan lebih lanjut,” pungkasnya. (duc)

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban