Musim Hujan, Pengerajin Gerabah Lesu

kotatuban.com-Musim hujan membuat geliat perajin gerabah, di Kelurahan Karang, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban lesu. Dampaknya, penghasilan para   perajin barang berbahan dasar tanah liat tersebut menurun drastis.

Meski kondisi tak menguntungkan Sumiati tetap tersenyum
Meski kondisi tak menguntungkan Sumiati tetap tersenyum

Hujan menjadi kendala terbesar usaha gerabah yang banyak di geluti warga, karena proses pengeringan satu-satunya masih mengandalkan terik matahari. Tidak heran, membuat barang-barang tersebut di musi hujan menjadi pekerjaan yang melelahkan dan menyita waktu karena harus menjemur saat panas dan mengangkatnya saat hujan tiba.

” Repot mas, melebu-metu (keluar msauk) karena harus mengangkat barang yang sedang di jemur agar barang setengah jadi itu tidak lembek karena air hujam,” ujar Tumiati (58).

Karena kondisi tersebut, proses pembuatan gerabah berupa cobek dan kuali tidak sebanyak musim kemarau. Bahkan penurunan produksi hingga diatas 100 persen, jika pada musim kemarau satu orang perajin mampu membuat 200 hingga 300 kuali maupun cobek dalam sehari, saat hujan seperti sekarang ini satu pengerajin hany mampu membuat paling banyak 50 buah cobek dan kuali.

” Klau musim hujan tidak bisa membuat banyak-banyak mas, soalnya repot penjemuranya,” sambung Tumiati.

Menurut Tumiati, jka musim kemarau dalam dua minggu sekali dia sudah bisa melakukan pembakaran hasil produksi gerabahnya, namun saat musim hujan seperti sekarang satu bulan baru bisa melakukan pembakaran, itupun dengan jumlah gerabah yang tidak terlalu banya.

” Kalau musim kemarau satu kali membakar paling sedikit 2.000 kuali dalam dua mingga. Tapi kalau musim hujan jangankan segitu mas, sebulan sekali saja tidak pasti, kemarin saya cuma membakar 800 gerabah saja,” terangnya.

Satu cobek, dijual kepada tengkulak seharga Rp1200 sampai Rp1500, sedangkan kuali dihargai Rp300 hingga Rp500 satu bijinya.

Kondisi ini hampir dirasakan semua pengrajin gerabah di wilayah Karang, seperti, Sumiati maupun lainnya. (kim)

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.