Terbengkalai, Lahan Pasca Tambang Dimanfaatkan Budidaya Jamur

Panen perdana jamur tiram di bekas lahan galian
Panen perdana jamur tiram di bekas lahan galian

kotatuban.com – Diwilayah Kabupaten Tuban banyak lahan bekas tambang batu kumbung yang terbengkalai. Pasalnya, masyarakat penambang batu kumbung yang dulunya menambang secara tradisional kini menggunakan gergaji mesin.

Hal inilah yang dimanfaatkan Aly Duchroini, warga Dusun Becok, Desa Tegalrejo, Kecamatan Merakurak, sebagai untuk budidaya jamur tiram. Daerah tempat tinggalnya memang terkenal sebagai salah satu lokasi penambangan batu kumbung yang dikerjakan secara tradisional.
”Usaha ini baru saya rintis, ujicoba budidaya jamur tiram di goa yang merupakan bekas penambangan batu kumbung,” jelas, Aly di lokasi usahanya, Sabtu (24/09).
Menurutnya, ide ini bermula ketika dia melihat cukup banyak lahan bekas tambang. Setelah tidak ditambang, tempat tersebut menjadi lorong dan goa yang berlumut karena ditinggalkan selama bertahun-tahun. Tergerak memanfaatkan, dia lantas meneliti kondisi suhu didalam lorong dan goa. Satu gua yang dipergunakan sebagai sampel, ternyata cukup lembab dan sejuk dengan suhu diantara 25 sampai 29 derajat celcius.
”Kebetulan saya punya seorang kenalan petani jamur, dari hasil perbincangan ternyata suhu tersebut sama dengan suhu yang diperlukan buat budidaya jamur tiram,” ungkapnya.
Dari situlah ide memanfaatkan bekas lahan tambang yang tidak terpakai dan terbengkalai itu muncul. Ternyata jamur bisa tumbuh dengan baik sesuai harapan. ”Ternyata tempat yang lembab dan sejuk sangat cocok buat jamur, air yang dibutuhkan juga relatif sedikit dibanding dibudidayakan di rumah,” ujarnya.
Lahan yang dimanfaatkan Aly merupakan milik warga yang tidak terpakai. Ada juga lahan bekas tambang yang cukup banyak dan berada di tanah milik Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Perhutani Tuban.
Selain itu, memanfaatkan goa bekas tambang bisa menghemat pengeluaran anggaran pembuatan rumah jamur yang bernilai jutaan rupiah. Cukup menyediakan rak dan bibit jamur sudah bisa dibudidayakan. (duc)
Print Friendly, PDF & Email

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.