Berprestasi Dalam Gulatan Kemiskinan

kotatuban.com – Muhammad Dapit bocah kelahiran tahun 2005 anak pasangan dari Tarsani (62) dengan Saripah (35) patut diacungi jempol. Bocah yang  kehidupannya dapat dikatakan dari kata layak tersebut masih mampu berprestasi.

Walaupun tinggal di rumah sangat sederhana yang hanya berdindingkan  bambu dan daun jati, Dapit tidak kalah dalam prestasinya dibandingkan teman-temannya yang serba kecukupan. Bocah yang duduk di bangku kelas 5 SDN Kapu 2 tersebut mampu meraih peringkat 2 di kelasnya.

Saat kotatuban.com menyambangi rumahnya yang berada di lahan milik Perhutani BKPH Merakurak, KPH Tuban, yang turut Desa Kapu, Kecamatan Merakurak, Senin (27/02) Dapit terlihat dengan cekatan membantu orang tuanya memanen jagung.

”Hari ini saya terpaksa tidak masuk sekolah dan belajar di rumah saja, karena harus membantu orang tua memanen jagung,” ungkap Dapit yang saat itu mengenakan baju pramuka.

Anak bungsu dari dua bersaudara tersebut mengaku terpaksa mengenakan baju pramuka yang seharusnya digunakan untuk sekolah. Sebab, dia tidak memiliki baju lain selain baju pramuka tersebut untuk digunakan ke ladang membantu orang tuanya.

”Baju pramuka ini kan untuk dipakai hari Jumat, dan besok bisa saya cuci. Saya terpaksa memakai baju ini untuk membantu orang tua panen jagung karena tidak ada baju yang lain,” ungkapnya.

Diketahui, Tarsani (62) beserta isteri dan dua anaknya hidup bertahun-tahun serba kekurangan dilahan milik Perhutani BKPH Merakurak, KPH Tuban. Dilahan Perhutani yang turut Desa Dusun Tegalpelem, Desa Kapu, Kecamatan Merakurak tersebut Tarsani mendirikan rumah berukuran sekitar 7 X 4 meter yang berdindingkan bambu dan daun jati.

Didalam rumah yang jauh dikatakan layak tersebut Tarsani dan keluarganya juga harus rela tinggal berdesak-desakan. Apalagi saat musim panen seperti saat ini Tarsani dan keluarganya juga harus rela tidur diatas jagung hasil panenannya yang tidak seberapa.

”Asli saya dari Pongpongan Kecamatan Merakurak, dan isteri saya berasal dari Grabakan. Saya dan istri sama-sama tidak punya apa-apa. Akhirnya, nekat tinggal dilahan milik Perhutani sejak tahun 2012 lalu,” cerita Tarsani kepada kotatuban.com, Senin (27/02). (duc)

 

Print Friendly, PDF & Email

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.