Kemarau, Petani Andalkan Sumur Bor untuk Pengairan Pertanian

Petani saat mengairi sawahnya dengan sumur bor
Petani saat mengairi sawahnya dengan sumur bor

kotatuban.com-Sejumlah petani terpaksa membuat sumur bor di persawahan mereka untuk mengairi tanaman saat musim kemarau. Sebab, pengairan yang sebelumnya menggunakan air sungai saat ini sudah tidak bisa diandalkan lagi, karena kering.

Seperti yang dilakukan petani di wilayah Desa Kapu dan tahul, Kecamatan Merakurak. Mereka saat ini hanya mengandalkan sumur bor untuk mengairi tanaman mereka.

Meski harus mengeluarkan ongkos yang lebih mahal untuk membeli solar dan peralatan pompa, hal itu terpaksa dilakukan. Sebab, jika tidak, tanaman mereka dipastikan mati dan kerugian akan lebih besar.

Karena hampir sebagian besar petani menanam padi, sumur bor dan mesin diesel bahkan dapat ditemui disejumlah titik area persawahan.

“Musim kemarau sungai di sini sudah kering mas, kalaupun ada tidak mengalir, sama saja tetap pakai pompa kalau diambil juga nggak akan cukup,” terang Rasimin (50), seorang petani warga Desa Kapu, Kecamatan Merakurak, saat di temui kotatuban.com di area persawahan.

Rasimin mengatakan, dalam satu kali musim tanam padi, petani rata-rata harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengairi sawah hingga Rp1,5 juta per hektar lahan padi. Biaya itu belum lagi biaya bibit dan pupuk, dapat dipastikan biayayanya lebih banyak dari itu.

“Kalau tidak gitu ya nggak bisa panen, namanya petani dimana-mana juga susah. Kalau sudah panen harganya murah. Balik modal saja sudah seneng,” kata Rasimin.

Dijelaskanya, untuk mengairi sawah sejak persiapan tanam hingga menjelang panen, dalam satu minggu biasanya dilaakukaan minimal 2 kali, dengan durasi waktu pengairan 3 hingga 5 jam.

“Seminggu paling tidak dua kali, tergantung modalnya saja, kalau tidak gitu ya kering. Ini diairi empat jam saja, besok sudah habis airnya.” jelas petani yang menggarap tiga petak lahan seluas kurang lebih satu hektar ini.

Ditambahkan, Rasimin, meski menanam padi di musim kemarau sangat sulit, hal itu tetap dilakukaan warga. Daerah Tahulu dan Kapu menupakan dataran rendah yang menjadi langganan banjir. Sehingga musim kemarau seperti sekarang ini kesempatan mereka bercocok tanam.

“Kalau musim hujan malah jarang nanam mas, sering banjir. Ya musim kemarau ini saatnya petani mendapatkan hasil. Sayangnya, pengairan dari sungai malah kekring, sehingga onkosnya lebih mahal jika dengan sumur bor,” keluh petani ini. (kim)

Print Friendly, PDF & Email

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.