Laut Dikapling, Lahan Melaut Nelayan Tuban Semakin Menyempit

Lahan nelayan semakin menyempit
Lahan nelayan semakin menyempit

kotatuban.com – Wilayah pesisir Kabupaten Tuban saat ini sudah tidak bisa menjadi “surga” bagi nelayan Tuban. Bahkan, lahan melaut nelayan saat ini semakin menyempit. Karena lokasi mencari ikan nelayan sudah dikapling-kapling perusahaan untuk kepentingan industri. Celakanya, lokasi sekitar fasilitas industri itu ‘haram’ didekati nelayan.

Sempitnya wilayah tangkap nelayan Tuban ini disebabkan banyaknya perusahaan yang mendirikan pelabuhan atau fasilitas industri lainnya. Di wilayah barat Tuban ada pelabuhan milik Semen Holcim yang berada di Desa Glondonggede, Kecamatan Tambakboyo. Kemudian pelabuhan milik Semen Indonesia yang berada di Desa Socorejo, Kecamatan Jenu.

Kemudian, di wilayah Tanjung Awar-Awar, Kecamatan Jenu,  juga ada pelabuhan yang dibangun milik PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (PT TPPI) yang juga menjadi lokasi tambatan kapal tangker untuk mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM). Kemudian di Terminal BBM (TBBM) Tuban milik PT Pertamina. Di Tanjung Awar-awar, juga menjadi lokasi pelabuhan milik PT Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Bahkan, pada tahun 2014 ini, para nelayan harus tersingkir dengan keberadaan Kapal Penyimpanan dan Alir Muat Terapung, Floating Storage Offloading (FSO) Gagak Rimang, yang dioperatori Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL) dan sudah mulai bersandar di 23 Kilometer dari bibir pantai Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban.

”Sekarang wilayah tangkap nelayan Tuban semakin sempit, dan nelayan semakin tersingkir. Karena pemilik pelabuhan melarang neyan mencari ikan dekat-dekat dengan pelabuhan,” terang salah satu tokoh nelayan di Tuban, Faishol, kepada kotatuban.com, Selasa (25/11).

Menurut, salah satu pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) ini, dengan adanya FSO penyimpan minyak mentah tersebut ladang penghasilan nelayan Tuban juga makin susah. ”Sekarang ditambah di wilayah Kecamatan Palang ada dua kapal tangker (FSO Gagak Rimang dan FSO Cinta Natomas). Jadi, nelayan Tuban dari sebelah barat sampai ujung timur banyak yang terhalang pelabuhan perusahaan-perusahaan tersebut,” kata Faishol.

Menurutnya, kondisi seperti ini tidak berpengaruh bagi nelayan yang menggunakan perahu besar. Tetapi nelayan berperahu besar rata-rata adalah orang dari Lamongan ataupun juga dari kawasan Jawa Tengah yang bisa menempuh jarak jauh ditengah laut. ”Tetapi nelayan Tuban jarang yang punya kapal besar, mereka hanya menangkap ikan menggunakan perahu tertentu dengan jarak terbatas,” pungkasnya. (duc)

 

 

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.