Peternak Adukan Ulah Blantik ke Presiden SBY

Ketua Peternak Wahyu Utomo saat mengadu ke Presiden SBY
Ketua Peternak Wahyu Utomo saat mengadu ke Presiden SBY

kotatuban.com – Peternak yang berada di wilayah Kabupaten Tuban, mengadukan keberadaan maklar atau blantik hewan ternak kepada Presiden Republik Indonesia (RI) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Wadulan peternak kepada presiden tersebut dilakukan  ketika, SBY melakukan kunjungan ke peternakan dan pembibitan sapi Wahyu Utama di Desa Sukolilo, Kecamatan Bancar, Kamis (13/3).

Joko Utomo, ketua peternakan Wahyu Utama mengatakan, peternakan sapi sangat sulit untuk membawa kesejahteraan kepada petani atau peternak sapi. Pasalnya, para peternak sapi tersebut hanya dimanfaatkan oleh blantik saja. Sapi-sapi dari peternak tersebut saat akan dijual kepada pemilik Rumah Pemotongan Hewan (RPH) pasti dibawa oleh blantik lebih dulu. Sehingga, harganya dari pemilik RPH masih dipotong untuk jasa maklar atau blantik tersebut.

”Selama ini yang untung adalah blantik (maklar/broker), sementara petani sapi tidak bisa berbuat apa-apa. Padahal, blantik tersebut hanya modal mulut saja,” kata Joko, ketika mendampingi Presiden SBY mengunjungi peternakan sapi yang dia kelola.

Joko mencontohkan, satu ekor sapi dengan harga Rp 15 juta yang dijual pedagang atau makelar sapi, didapat dari petani hanya dengan harga Rp 12-13 juta. Padahal dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk merawat sapi, sementara pedagang sapi atau broker tidak memerlukan modal apapun. ”Kami berharap pemerintah dapat memperhatikan masalah yang diderita oleh peternak ini,” tandasnya.

Menanggapi keluhan peternak tersebut, presiden SBY mengatakan, kalau keberadaan broker memang cukup mengganggu keberadaan peternak sapi. Sehingga, keberadaan blantik tersebut harus menjadi mungsuh bersama. ”Broker itu musuh kita bersama,” jelas Presiden SBY dihadapan peternak dan warga yang ada di lokasi.

Selanjutnya, pemerintah akan menindak lanjuti keluhan peternak dengan berupaya membentuk badan ataupun perusahaan yang bertugas untuk melakukan pemotongan daging dari hasil ternak. Peternak sapi tersebut menyatu dengan RPH. Sehingga, peternak jika akan menjual sapi tidak usah melalui blantik. ”Jadi sapi-sapi dari peternak akan dijual dalam bentuk daging, tidak lagi melalui pedagang sapi,” pungkas SBY. (duc)

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.