Tentang K13, Seorang Guru Tuban : “Baguslah Ini Kalau Dibatalkan”

llustrasi : bangfajars.wordpress.com
llustrasi : bangfajars.wordpress.com

kotatuban.com– Sejumlah guru di Kabupaten Tuban, terutama yang mengajar di sekolah pinggiran menyambut gembira surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Pasalnya, mereka tidak perlu lagi menggunakan kurikulum 2013, sebagaimana diatur dalam  Permendikbud nomer 160 tahun 2014 tentang penerapan kurikulum 2006 dan kurikulum 2013. Dalam Permen tersebut disebutkan satuan pendidikan dasar dan menengah yang baru satu semester melaksanakan K13, dapat kembali menerapkan kurikulum 2006.

“Yang jelas, para guru terutama yang ada di kecamatan dan sekolah swasta pinggiran merasa senang. Karena bagi kami, kurikulum baru itu masih perlu penyempurnaan, terutama fasilitas kami sendiri yang sebenarnya belum mampu jika diminta menerapkan kurikulum tersebut,” ujar Ahmad, salah seorang guru Madrasah di Kecamatan Montong, Tuban.

Menurut Ahmad, selama satu semester pelaksanaan K13, sekolahnya bisa dibilang belum berhasil menerapkan kurikulum 2013. Hal tersebut terutama karena keterlambatan buku panduan K13 serta minimnya sarana dan prasarana penunjang yang dimilikinya sekolahnya.Di sisi lain, solusi yang diberikan berupa softcopy buku panduan K13, juga tidak bisa dijalankan karena minimnya peralatan multimedia. Praktis, kata Ahmad, Kurikulum 2013 belum dapat maksimal diterapkan di sekolahnya. Ahmad meyakini bahwa kendala dan permasalahan tersebut juga terjadi di banyak sekolah lain terutama yang berada di pinggiran.
“Buku terlambat, fasilitas penunjang seperti internet dan penunjang lainya untuk media menyampaikan soft copy juga tidak ada. Mau berjalan bagaimana? Baguslah ini kalau dibatalkan, biar diperbaiki dulu semuanya,” tandas Ahmad.

Dikatakan Ahmad, minimnya fasilitas yang dimiliki sekolah juga memicu tidak siapnya guru dan murid untuk melaksanakan K13. Hal tersebut diperparah dengan kenyataan bahwa belum semua guru memahami K13. Kesan bahwa pemerintah terlalu memaksakan pelaksanaan K13 sangat dirasakan Ahmad dan beberapa guru lain.

“Fasilitas minim di sekolah juga akan mejadi penghambat lancarnya pelaksanaan K13, SDM guru juga masih banyak yang belum siap,” lanjut Ahmad.

Atas carut marutnya pelaksanaan K13, Ahmad mengatakan, K13 ibarat makanan yang belum matang,  namun dipaksakan untuk dikonsumsi sehingga tidak sedikit yang mental. “Itu ibarat nasi belum matang, kemudian dipaksa untuk makan ya pasti tidak enak,” pungkasnya. (kim)

Print Friendly, PDF & Email

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.