Tuntut Pekerjaan Ratusan Warga Blokir Jalan Pabrik Holcim

kotatuban.com – Ratusan warga dari enam desa Ring 1 PT Semen Holcim Indonesia Tbk pabrik Tuban, yakni Desa Glondonggede, Merkawang, Sawir, Mliwang, Desa Kedungrejo, dan Desa Karangasem, melakukan aksi demonstrasi, Selasa (11/3).

Aksi unjuk rasa warga tersebut menuntut masalah pekerjaan dan menagih janji pabrik semen tersebut untuk mensejahterakan warga sekitar.

Warga blokir jalan menuju pabrik Holcim
Warga blokir jalan menuju pabrik Holcim

Dalam aksinya tersebut, ratusan warga dari enam desa dari Kecamatan Tambakboyo dan Jenu tersebut memblokir jalur pantura Tuban menuju arah Semarang – Surabaya. Selanjutnya, pengunjukrasa memblokir jalan menuju pabrik. Akibatnya, angkutan yang hendak menuju pabrik ‘tersandra’ di tengah jalan, karena tidak bisa melanjutkan perjalanan.

Selain itu, banyaknya massa juga menyebabkan  arus lalu lintas dijalur Pantura arah Surabaya-Semarang mengalami kemacetan panjang dan kendaraan menumpuk.

Pantuan kotatuban.com di lapangan, ratusan pemuda yang menuntut masalah pekerjaan tersebut  berkumpul di Balai Desa Glondonggede, Kecamatan Tambakboyo, yang berjarak sekitar satu kilometer dari pelabuhan PT Holcim Indonesia Tbk. Selanjutnya, warga melanjutkan aksinya dengan jalan kaki di jalur Pantura Tuban tersebut sambil melakukan taetrikal ditengah jalan.

”Holcim ingkar janji kepada warga masyarakat sekitar. Kita tidak mau dijajah, kita bukan pengemis,” teriak Saiful, salah satu warga yang ikut dalam aksi tersebut.

Akibat, dari aksi teatrikal di tengah jalan raya tersebut, arus lalu lintas di jalur Pantura Tuban dari arah Surabaya menuju Semarang mengalami lumpuh sekitar lima belas menit. Sehingga, penumpukan kendaraan hingga sekitar dua kilometer. Sambil membawa sejumlah spanduk yang berisikan kecaman terhadap pabrik semen tersebut, ratusan warga tersebut melanjutkan aksinya di jalan menuju PT Holcim.

”Jika tuntutan kami tidak dikabulkan oleh Holcim kami akan melakukan aksi demontrasi lagi,” ancam salah satu demonstran.

Sementara itu menurut Corporate Communication East Java PT Holcim Indonesia Tbk, Indriani Siswati, pihaknya dalam rekrutmen tenaga kerja sudah sangat terbuka. Bahkan hingga kini telah ada 3.000 lebih warga sekitar yang dilibatkan bekerja dalam pembangunan Pabrik Tuban 1 dan 2.
“Jumlah itu akumulatif mereka yang masih bekerja dan yang sudah keluar. Kalau sekarang yang terlibat masih ada sekitar 2000 warga lebih” Indriani Siswati.

“Kita melibatkan mereka sejak proyek pembangunan (pabrik) Tuban 1, Tuban 2, hingga pengoperasian Tuban 1 sekarang,” lanjut Indri menanggapi tuntutan pengunjukrasa menuntut dipekerjakan.

Lebih lanjut, Indri menjelaskan, untuk rekrutment karyawan PT Holcim Indonesia, perusahaan yang berpusat di Swiss itu mempunyai prosedur dan persyaratan tersendiri. Sementara untuk tenaga kerja proyek sepenuhnya diserahkan kepada kontraktor.

Namun kontraktor sendiri juga memiliki pertimbangan dalam merekrut pekerja. Ada spesifikasi keahlian khusus yang diperlukan. Sehingga calon pekerja perlu dilakukan tes sesuai keahlian yang diperlukan kontraktor.

“Kontraktor memiliki pertimbangan untuk rekrutment pekerja, tergantung keahlian yang diperlukan,” terangnya.

Sementara itu terkait dengan permintaan eks karyawan PT Kamajaja Logistics untuk dipekerjakan kembali dan diberikan besaran upah seperti tuntutan yang mereka sampaikan, PT Holcim Indonesia Tbk belum bsia memberikan jawaban. Sebab, saat ini PT Holcim tengah melakukan pembicaraan dengan kontraktor pengganti PT Kamajaja Logistics. “Soal apakah mereka dipekerjakan lagi oleh kontraktor sepenuhnya urusan kontraktor. PT Holcim hanya memberikan rekomendasi agar menggunakan warga sekitar pabrik,” tandas Indri. (duc)

 

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban

1 Comment

  1. Bukan Pengemis tapi kok ngancam,,,jenenge opo trusan..
    Ambil filosofi pengemis,,,,pasang wajah penuh keprihatinan dan ketulusan,,,
    Pasti lancar,,,
    Lha nek pengemis ngancam opo ora malah ditendang gundule,,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.