Ibu Rumah Tangga Dominasi Penderita HIV/AIDS 

imagekotatuban.com – Ibu rumah tangga menduduki peringkat tertinggi penderita Human Immunodeficiency Virus infection and Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Kabupaten Tuban. 

Data yang berhasil dihimpun kotatuban.com dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuban, bahwa mulai tahun 2000 hingga saat ini penderita HIV/Aids mencapai 206 penderita. Sedangkan yang meninggal akibat penyakit tersebut ada 57 orang penderita, dan ada 5 penderita yang sudah keluar dari Kabupaten Tuban.

Sedangkan, angka tertinggi penderita HIV/AIDS di Tuban banyak diderita oleh ibu rumah tangga, yakni mencapai 47 penderita. Jumlah tersebut jauh diatas jumlah Pekerja Seks Komersil (PSK) yang hanya 20 PSK yang teridentifikasi positif virus berbahaya tersebut.

”Sampai saat ini, angka penderita HIV/AIDS di Tuban masih di dominasi ibu rumah tangga,” terang, Kepala Dinkes Tuban Saiful Hadi, kepada kotatuban.com, , Rabu (08/04)

Menurutnya, ibu rumah tangga menduduki peringkat tertinggi karena tertular dari suaminya sendiri yang suka jajan (ganti pasangan). Sehingga, para ibu rumah tangga perlu waspada terhadap penyakit ini.

”Ketika ada gejala terkena HIV untuk segera memeriksakan ke Klinik, jangan malu, karena untuk kepentingan bersama,” harapnya.

Lebih lanjut, Saiful mengatakan, setelah ibu rumah tangga menduduki teratas akibat virus tersebut. Peringkat dibawahnya ada pekerja swasta, dan para pekerja supir kendaraan.

”Untuk PSK yang positif terkena HIV masih diurutan keempat, dan urutan terbawah yang tekena HIV adalah pembantu rumah tangga,” katanya.

Untuk mencegah semakin bertambahnya penderita, Dinkes Tuban melakukan sosialisai kepada masyarakat terkait bahaya HIV. Diantanya, sosialisi kepada remaja di tempat sekolah, penyuluhan di Lapas dan pemilik hiburan malam.

”Untuk mengurangi virus berbahaya tersebut yang kita lakukan baru berupa sosialisasi – sosialisasi terkait bahaya HIV/AIDS,” pungkasnya. (duc)

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban