Koleman Sedekah Bumi Peninggalan Leluhur

kotatuban.com-Warga petani di Tuban, utamanya petani tadah hujan, saat tanaman padi mereka tengah menguning memiliki budaya yang mereka sebut Koleman. Tidak jelas, sejak kapan budaya sedekah bumi yang diperuntukkan bagi tanaman padi mereka itu dimulai. Sebab, budaya itu sudah berlangsung ratusan tahun, secara turun temurun. Seperti yang dilakukan warga Dusun Becok, Desa Tegalrejo, Kecamatan Merakurak, Tuban.

Para petani saat melakukan doa bersama
Para petani saat melakukan doa bersama

Sejak matahari bersinar, puluhan wara berbondong-bondong ke masjid desa setempat sambil menenteng ambeng (nasi dan lauk pauk). Bukan hanya kaum lelaki, tapi, juga kaum wanita banyak yang mengikuti ritual yang dilakukan setahun sekali itu.

“Kami hanyameneruskan kebiasaan orang tua dahulu. Yang penting, bukan sedekah buminya, tapi, doa yang kita panjatkan untuk kesejahteraan warga. Kami berharap agar hasil pertanian bisa berlimpah,” terang Kaur Kesra Desa Tegalrejo, Mukhsin yang memimpin ritual tersebut.

Ambeng untuk sedekah bumi kali ini memang berbeda dengan kebiasaan. Ambeng kali ini berisi nasi kuning yang oleh warga disebut punar. Selain itu juga ada nasi putih, ketela, singkong rebus dan aneka macam tanaman lainnya.

Setelah sesaji itu didoai oleh sesepuh dusun, sebagian dimakan di tempat pelaksanaan ritual dan langsung dibawa pulang lagi. Namun, tidak semuanya dimakan dengan keluarga, ada yang disisihkan untuk disebar di tengah-tengah tanaman mereka. Saat mereka menyebarkan (biasanya nasi) sambil memanjatkan doa agar tanaman mereka tidak kena hama dan panennya bisa melimpah. “Tiap-tiap pojok lahan pertanian kita sebar nasi dari sedekah bumi itu,” ungkap salah satu petani lain.

Warga di dusun pinggir hutan itu berharap, meski cuaca tidak menentu dan bisa mendatangkan hama penyakit tanaman, namun, dengan doa bersama sambil bersedekah itu sebagai upaya tolak balak, sehingga, tanaman mereka terhidar dari penyakit. (ros)

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban