KPR Ajarkan Baca Tulis Lansia

image
Proses pengentasan buta aksara di Kecamatan Kerek

kotatuban.com – Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR) ajarkan baca tulis dan hitung kepada ratusan warga buta aksara yang sebagian besar adalah perempuan Lanjut Usia (Lansia) di KabupatenTuban.

Direktur KPR Nunuk Fauziah, dikonfirmasi mengatakan, KPR telah melaksanakan pendampingan  pendidikan bagi warga buta aksara di Kabupaten Tuban sejak tahun 2008.  Hingga tahun ini, pendampingan yang dilakukan telah mencakup sedikitnya di 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Tuban.

“Kami telah melaksanakan program pemerintah itu sejak tahun 2008, dengan cakupan 17 keamatan di Tuban,” terang Nunuk Fauziah, Sabtu (06/02).

Nunuk mengaku, Kabupaten Tuban merupakan salah satu daerah di Jawa Timur yang masuk zona merah buta aksara. Dan ternyata buta aksara paling banyak dialami oleh kaum perempuan.

“Ini cukup mmprihatinkan, karena perempuan paling banyak buta aksara
Padahal, mereka ini yang memegang peran penting terhadap pendidikan bagi anak-anak mereka,” kata Nunuk.

Tahun 2015 ini, tiga kecamatan di Kabupaten Tuban menjadi fokus pengentasan buta aksara program Keaksaraan Fungsional  yakni Kecamatan Kerek, Kecamatan Merakurak, dan Kecamatan Bangilan.

“Tiga kecamatan itu ada sekitar 400-an warga binaan yang terbagi dalam berapa kelompok dengan setiap kelompoknya didampingi satu tutor,” katanya.

Diakui Nunuk, meski program ini sudah sangat baik sebagai pengentasan buta aksara, namun, masih kurang, lantaran keterbatasan waktu pelaksanaan.

Seharusnya program ini dilaksanakan minimal tiga tahun bukan enam bulan, pasalnya yang dididik adalah orang tua dengan permasalahan yang komplek, sehingga membutuhkan waktu lebih dari usia-usia sekolah.

“Harusnya pendampingan ini tidak hanya enam bulan, paling tidak 3 tahunlah. Persoalanya yang diajarkan baca dan tulis adalah orang tua yang kebutuhanya tidak hanya belajar baca dan tulis,” katanya.

Terpisah, tutor pengentasan buta aksara di Kecamatan Kerek, Nanik Hartiningsih mengatakan, program ini cukup bagus untuk warga yang tidak dapat baca dan tulis. Setidaknya mereka yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal mampu baca dan tulis setelah mengikuti program ini.

“Kami ditunjuk sebagai kelompok pelaksana program pengentasan,  kebetulan di kelompok kami ada 12 orang yang ikut bimbingan ini,” terang Nanik.

Sementara itu Darsini seorang peserta warga Desa Kedungrejo, mengaku senang mengikuti program ini. Perempuan 47 tahun yang tidak pernah bersekolah ini sudah mampu baca dan tulis sejak mengikuti bimbingan sejak beberapa bulan terakhir.

“Sekarang sudah bisa baca dan tulis, Mas, Alhamdulillah,” kata perempuan itu. (kim)

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban