200 Warga Rembang Kunjungi Pabrik Semen Tuban

Warga Rembang berpose bersama di depan kantor Pabrik Tuban
Warga Rembang berpose bersama di depan kantor Pabrik Tuban

kotatuban.com – Sebanyak 200 warga dari beberapa desa di Rembang dan Blora mengunjungi Pabrik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di Tuban. Kedatangan warga tersebut untuk mengetahui secara langsung operasional perusahaan serta pengelolaan lingkungan. Kunjungan warga tersebut diterima oleh Direktur Produksi Semen Gresik Prasetyo Utomo di Ruang Auditorium Pabrik Tuban, Selasa (03/03).

Direktur Produksi PT Semen Gresik Prasetyo Utomo dalam sambutannya mengatakan, pihaknya selalu terbuka kepada seluruh masyarakat yang ingin mengunjungi Pabrik. Kunjungan tersebut diharapkan masyarakat mengetahui bagaimana proses pembuatan semen dan keberadaanya sangat bermanfaat bagi warga sekitar perusahaan.
Menurut Prasetyo Utomo, dalam menjalankan roda perusahaan SI selalu mengedepankan wawasan lingkungan (Green Industry). Pasalnya, selama ini masyarakat berfikir bahwa penambangan yang dilakukan perusahaan akan merusak lingkungan dan tidak di reklamasi. Namun, tidak terjadi pada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, pasca tambang akan dilakukan pemulihan melalui penanaman kembali atau vegetasi, adapun jenis pohon yang ditanam adalah tanaman pelindung dan produktif. Sehingga, secara tidak langsung bisa melindungi tanah, mampu menyerap air serta bermanfaat bagi masyarakat sekitar, kami akan terus memantau agar pabrik kami tidak merugikan lingkungan.
”Semen Gresik adalah perusahaan yang memproduksi debu, jika banyak debu yang keluar maka dapat mengurangi hasil produksi kami, untuk itu kami menggunakan alat canggih yang berfungsi untuk menangkap debu. Selain itu pabrik kami tidak memberikan dampak polusi yang membahayakan bagi warga karena tidak memiliki limbah yang berbahaya,” jelas Prasetyo.
Warga juga melihat langsung bekas galian tanah liat yang sekarang menjadi waduk. Galian waduk tersebut saat ini bisa mencukupi kebutuhan air warga di dua desa yaitu Telogowaru dan Temandang. Sebelum ada pabrik petani di sekitar perusahaan panen hanya sekali dalam setahun karena sistem pertanian tadah hujan. Sekarang petani disekitar pabrik bisa panen sebanyak tiga kali dalam setahun tanpa khawatir kekurangan air, selain pemanfaatan waduk sebagai pengairan, sebagian masyarakat juga memanfaatkan untuk budidaya ikan dengan sistem keramba.
”Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam kegiatan proyek pembangunan maupun pasca proyek di Rembang. Semuanya sudah melalui kajian yang mendalam oleh para ahli,” pungkas Prasetyo Utomo. (duc) 

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.