Berebut Bunceng Saat Arwah Leluhur Turun ke Bumi

Buceng yang dipersiapkan wargaTri Dharma Tuban
Buceng yang dipersiapkan wargaTri Dharma Tuban

kotatuban.com-Puluhan warga sekitar Klenteng Tjoe Ling Kiong, Jalan Panglima Sudirman, Kota Tuban memadati tempat ibadah Tri Dharma. Para warga itu berebut buceng saat upacara sembahyang untuk leluhur warga Tri Dharma di klenteng tersebut, Rabu (13/8).

Persembahan umat berisi nasi buceng (tumpeng kecil) dan gula, kopi, mie, serta makanan lainya diletakkan di wadah sejenis bakul plastik, dimasukkan dalam tas plastik, kemudian diberi tanda penyumbangnya dalam bentuk bendera kertas yang ditancapkan.

Umat yang turut memberi persembahan ini tak hanya datang dari Tuban saja. Terbukti di salah satu bendera, tanda penyumbang juga tertulis nama Tony Kapasa yang beralamatkan di Surabaya.

“Saya datang ke sini sejak jam sembilan tadi mas,” ujar salah seorang warga, yang kemudian bergegas pergi sebelum sempat memberitahukan namanya.

Prosesi rebutan sendiri dimulai setelah gong di klenteng dibunyikan beberapa kali, usai sembahyangan umat selesai dilaksanakan. Setelah pukulan pertama, warga yang sudah menunggu langsung berebut bunceng yang ada di atas meja disalah satu sudut klenteng. Tidak sampai satu menit, bunceng yang ada di atas meja telah ludes direbutkan warga.

Meski begitu, prosesi rebutan yang berlangsung cukup singkat ini berlangsung aman. Tak ada satupun orang yang terluka atau terinjak-injak karena prosesi juga dijaga Polisi dan TNI serta petugas Linmas.

Gunawan Putra Wirawan, ketua umum klenteng mengatakan, pembagian sedekah bumi dengan jalan seperti ini adalah tradisi klenteng sejak berdiri 2,5 abad silam. Awalnya, sembako diberikan secara terbatas untuk umat Khonghucu, Budha Mahayana, dan Tao, namun, kini tak terbatas dari latar belakang agama tertentu.

Dia mengatakan, prosesi ini diawali dengan sembahyang, atau King Hoo Ping yang biasanya digelar setelah tanggal 15 bulan 7 tahun Imlek. Makna dari sembahyang rebutan ini adalah untuk mendoakan arwah leluhur.

“Ini juga sering disebut dengan sembahyang rebutan. Tujuanya untuk memberi penghormat pada leluhur yang suda meninggal,” kata Gunawan.

Gunawan menjelaskan, saat ini, adalah waktu arwah leluhur turun ke dunia sehingga menjadi waktu yang tepat untuk umat Tri Dharma mendoakan arwah keluarga mereka. Karena itu, umat Tri Dharma membagikan buceng kepada masyarakat sebagai rasa sukur.

“Warga tersebut tak diundang, tapi mereka secara sadar hadir di kelenteng saat sedekah bumi yang kita laksanakan setiap tahun.” katanya. (kim)

 

Print Friendly, PDF & Email

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.