Heboh, Warga Temukan Tulang Manusia Saat Nambang Kumbung

kotatuban.com – Para penambang batu kumbung di areal pertambangan Gembol, Desa Jadi, Kecamatan Semanding dihebohkan penemuan tulang belulang manusia. Tulang belulang manusia tersebut ditemukan didalam lubang yang menyerupai sumur dengan kedalaman tiga meter dan berdiameter satu meter.
”Saat kita menggali batu kumbung (karst) terlihat sebuah tulang manusia,” terang penambang karst asal Jadi, Kasman, Rabu (29/09).
Menurutnya, akhirnya dia bersama penambang lainnya menggali lebih dalam sumur yang ada ditengah-tengah batu kumbung tersebut. Ternyata ditemukan tulang belulang lebih banyak, dengan susunan tak beraturan di dalam sumur tersebut.
”Rahang ya ini lebih besar dari rahang manusia yang ada saat ini. Mungkin ini kerangka manusia jaman dulu karena giginya masih banyak yang utuh. Kalau tulang-tulangnya sudah banyak yang hancur,” ujarnya.
Menurutnya, pertama kali tulang belulang tersebut ditemukan pada Minggu (23/09) lalu. Sampai hari keempat pasca penemuan tulang pertama, penambang masih berusaha menggali tanah yang berbau amis tersebut. Kondisi tanah yang kering dan gembur, memudahkan penggalian hanya dengan alat seadanya.
”Mungkin kalau kita gali terus masih banyak tulang belulang, karena masih dalam kalau kita gali terus,” ujarnya.
Dia meyakini, kalau digali terus pasti masih ada banyak tulangnya. Keterbatasan alat komunikasi, membuat Kasman belum melaporkan temuan ini ke pemerintah desa maupun kepolisian.
Dikonfirmasi perihal tersebut, Kapolsek Semanding, AKP Desis Susilo, langsung menugaskan anggotanya ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). Melalui berbagai pertimbangan, akhirnya tulang tersebut dimakamkan di pemakaman umum di sebelah timur yang berjarak 100 meter dari lokasi penemuan tulang tersebut.
”Rencana akan dimakamkan di pemakaman umum desa,” ujarnya.
Sementara, juru bicara Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di Tuban, Endang Sri Wuryani, ketika dikonfirmasi temuan ini belum berani memberikan penjelasan lebih jauh. Pihaknya bakal melakukan survei terlebih dahulu, baru dilakukan kajian.
”Kita survei kaji baru bisa menyimpulkan,” pungkasnya. (duc)

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban