Menjelang Ramadhan, Berkah Bagi Penjual Ketupat

Suasana penjual ketupat di salah satu sudut Tuban
Suasana penjual ketupat di salah satu sudut Tuban

kotatuban.com– Kupatan, sebagai salah satu tradisi masyarakat di Kabupaten Tuban,  tidak pernal ditinggalkan setiap menjelang bulan puasa.  Moment ini selalu menjadi berkah bagi para penjual ketupat dan daun lontar. Umunya, mereka memanfaatkan moment tersebut untuk menjajakan ketupat maupun daun lontar sebagai bahan membuat ketupat bagi warga yang membutuhkan.

Seperti yang nampak di pasar tradisional Desa Margomulyo, Kecamatan Kerek, belasan bahkan puluhan pedagang ketupat dadakan memadati trotoar depan pasar desa yang berada disisi Jalan Raya kecamatan.

Selain menjual ketupat yang sudah jadi, sebagian penjual masih menjual dalam bentuk lembaran daun lontar atau janur kuning.  Selagi menunggu pembeli, biasanya juga dimanfaatkan untuk membuat ketupat.
Sriah, salah satu penjual ketupat dan daun lontar mengatakan, saat musim kupatan seperti ini, Dia selalu menjadi penjual ketupat, tidak hanya menjelang bulan puasa, memasuki akhir bulan puasa dan setelah bulan puasa (lebaran ketupat) hampir dapat dipastikan tidak pernah ketinggalan ikut mencari berkah puasa Ramadhan.

“Sudah biasa, setiap tahun jualan ketupat,” kata Sriah.

Sriah mengaku, selain menjual ketupat jadi, dirinya juga menjual bahan ketupat, yakni daun lontar atau janur kuning. Biasanya, para pembeli lebih tertarik membeli bahan ketupat, selain alasan lebih murah, mereka mengaku lebih puas dengan ketupat bikinan.
Satu ikat ketupat yang sudah jadi, biasanya dihargai antara Rp8.000 hingga Rp10.000, tergantung ukuran,  sementara untuk bahan ketupat atau daun lontar dengan harga yang sama dapat menghasilkan lebih dari 10 buah ketupat.

“Ya lontar ya ketupat mas, yang pengen buat sendiri belinya lontar,” kata nenek 60 tahun yang tidak fasih berbahasa Indonesia ini.

Sementara itu salah seorang pembeli ketupat, Siti Zulaihah (50) mengaku, tidak pernah ketinggalan merayakan kupatan di setiap menjelang Ramadhan. Hal itu karena sudah menjadi tradisi bagi keluarga dan lingkungan rumahnya. “Setiap tahun pasti ikut merayakan kupatan jelang Ramadhan,” kata Siti Zulaihah.

Untuk diketahui, sebagian masyarakat Tuban, selalu menyambut Ramadhan dengan tradisi kupatan. Umumnya, mereka tasyakuran di mushola atau masjid. Selain ketupat, mereka juga membikin lepet, yakni ketan yang dibungkus daun lontar. Tradisi kupatan ini, akan mereka lakukan juga seminggu setelah hari Raya Idul Fitri. (kim)

Print Friendly, PDF & Email

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.