Ribuan Bidang Tanah Wakaf ‘Bodong’

kotatuban.com-Banyak tanah wakaf di Kabupayen Tuban belum memiliki sertifikat wakaf alias bodong. Padahal sertifikat wakaf tersebut diperkukan untuk melindungi dan memperjelas status tanah wakaf agar terbebas dari sengketa hukum.

Umi Kulsum Kasi Bimsyar Kemenag Tuban
Umi Kulsum Kasi Bimsyar Kemenag Tuban

Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Tuban mencatat, sejak tahun 2003 hingga tahun 2014 ini, terdapat 1.337 titik tanah wakaf,  sekitar 900 sudah tersertifikat sedangkan sisanya hingga kini masih berstatus tanpa sertifikat.

“Dari data itu, memang masih banyak yang belum sertifikat, beberapa diantaranya hanya dilengkapi Akte Ikrar Wakaf atau AIW,” ujar Kepala Seksi Bimbingan Syariah, Kementrian Agama Kabupaten Tuban, Umi Kulsum.

Umi menjelaskan, dii Kabupaten Tuban, umumnya tanah wakaf itu dibangun lembaga pendidikan atau pesantren. Sementara pengurus yayasan maupun lembaga pendidikan yang bertanggung jawab atas tanah wakaf itu jarang yang mensertifikatkan karena dianggap belum perlu.

“Ini yang terkadang menjadi kendala, para pengurus wakaf itu baru mengajukan sertifikat atau lapor kepada kami setelah yayasan atau lembaga itu akan menerima bantuan,. Sementara sertifikat itu akan menjadi syarat penerima bantuan itu,” jelas Umi.

Untuk tahun 2013 dan tahun 2014, sebanyak 321 berkas tanah wakaf diajukan utuk disertifikatkan wakaf. Namun, dari jumlah itu, hnya 129 yang lolos verifikasi dan akan diproses. Karena sebelum tanah itu disertifikat waakafkan ada beberapa persyaratan seperti pernyataan Akta Ikrar Wakaf (AIW) dan sebagainya.

“Tahun 2013 dan 2014, ada 321 yang masuk, namun hanya 129 yang akan kami proses, sisanya kami kembalikan karena tidah memenuhi kreteria atau syarat masih kurang,” imbuh Umi.

Selain belum melengkapi persyaratan AIW, ada juga tanah wakaf yang tidak dapat diproses sertifikat karena tanah tersebut digugat oleh keluarga pewakaf.

” Ada dua yang batal kami proses karena tanah itu masih sengketa, ahliwaris merasa jika tanahitu tidaak diwakafkan oleh keluarganya. Inilah salah satu alasan , tanah wakaf harus disertifikat, agar status tanah sertifikat itu jelas,” terang Umi.

Diakui Umi, hingga saat ini, masih kesulitan menentukan jumlah pasti tanah wakaf yang ada di Tuban, sebab, ada beberapa tanah wakaf yang lagsug di sertifikatkan sendiri, ada juga tanah wakaf itu tanpa sertifikat dan hanya wakaf secara lisan saja.

“Sering kali masyarakat memproses sertifikat tanah wakafnya langsung ke Kantor Pertanahan tanpa ada laporan sesudahnya ke sini. Sehingga data di kita tanahnya masih AIW, padahal sudah bersertifikat,” katanya.

Keberadaan AIW lanjut Umi, merupakan dasar kutipan bagi Kantor Pertanahan mengeluarkan sertifikat tanah wakaf. Prosesnya dilakukan masyarakat dengan mengajukan permohonan pewakafan ke Kantor Urusan Agama (KUA) di kecamatan.

Selanjutnya, pihak KUA akan mengeluarkan formulir Akta Ikrar Wakaf (AIW) untuk ditandatangani Muwakif (pemberi wakaf), dan nadhir (orang atau badan penerima amanat untuk memelihara dan mengurus harta wakaf). AIW ini kemudian menjadi salah satu syarat pengajuan sertifikat wakaf. (kim)

 

 

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.