Solidaritas Tragedi Guru Sampang, BEM STITMA Gelar Aksi

kotatuban.com – Sejumlah Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Mahdum Ibrahim (STITMA) Tuban, menggelar aksi dibundaran patung Letda Soecipto, Senin (05/02).

Aksi seruan moral dan bagi-bagi bunga kepada pengguna jalan tersebut sebagai wujud simpatik kepada dunia pendidikan yang kehilangan sosok Ahmad Budi Cahyono, seorang guru SMA 1 N Torjun Sampang,Madura, yang wafat setelah dianiaya oleh muridnya sendiri, pada, Kamis (01/02) lalu.

Presiden BEM STITMA Tuban, Khoirul Marom dalam aksi tersebut menyerukan kepada masyarakat agar tidak ada lagi hal serupa menimpa pendidik yang berada di Bumi Wali. Karena menurutnya guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa harus di hormati dan dihargai, tanpa tangan dingin guru tidak akan mungkin ada, profesor, doktor, pejabat, maupun orang sukses lainnya.

”Ini wujud aksi kita sebagai mahasiswa jurusan Trabiyah (pendidikan, red) prihatin akan tinta hitam dalam pendidikan di Indonesia, dan jangan terulang kembali,” teriak Marom dalam orasinya.

Para mahasiswa itu juga mengajak kepada wali murid harus selalu mengawasi betul tumbuh kembang putra putrinya, ketika di lingkungan rumah. Karena peran orang tua sangatlah penting dalam membentuk karakter anak selain di lembaga pendidikan.

”Anak itu jangan hanya diserahkan ke pihak sekolah saja sepenuhnya, karena peran serta orang tua sangatlah penting dalam pembentukan moral sangat penting,” tambahnya.

Diberitakan dibeberapa media nasional, guru tidak tetap (GTT) bidang seni rupa, Ahmad Budi Cahyono (26), meninggal dunia di RSUD Dr Soetomo, Surabaya, Kamis (1/2/2018) sekira pukul 21.40 WIB.

Meninggalnya Budi, lantaran diduga pembuluh otak di leher belakang pecah, setelah siang harinya dianiaya siswa kelas XI, berinisial MH, di teras depan kelas.

Kejadian itu, Saat sesi jam terakhir, guru Ahmad Budi Cahyono sedang mengajar mata pelajaran seni rupa di kelas XI SMAN Tojun Saat itu siswa berinisial MH tidak mendengarkan pelajaran. Dia justru mengganggu teman-temannya dengan mencoret-coret lukisan mereka.

Budi menegur MH. Namun, tidak dihiraukan tersangka, Ia malah semakin menjadi-jadi mengganggu teman-temannya. Akhirnya sang guru menindak siswa tersebut dengan mencoret pipinya dengan cat lukis. MH tidak terima dan memukul gurunya itu.

Kemudian Budi dibawa ke ruang guru, lalu menjelaskan duduk perkaranya kepada kepala sekolah (Kasek) Guru Budi kemudian dipersilakan untuk pulang terlebih dahulu. Sesampainya di rumah, Budi istirahat karena mengeluh sakit pada lehernya.

Selang beberapa sant kesakitan dan tidak sadarkan diri dan langsung dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Kondisi guru tidak tetap (GTT) itu kritis. Pukul 21.40 dinyatakan meninggal dunia. (duc)

Print Friendly, PDF & Email

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban