Welit Tuban, Tembus Pasar Negeri Jiran

Seorang ibu tengah menganyam daun welit menjadi atap
Seorang ibu tengah menganyam daun welit menjadi atap

kotatuban.com-Atap daun atau yang dikenal warga Kabupaten Tuban sebagai atap welit mampu tembus pasar ekspor. Atap yang terbuat dari daun pohon sagu (rembulung) yang masih tradisional mampu bersaing dengan atap produksi pabrikan.

Biasanya, atap welit digunakan untuk atap gubuk atau kandang ayam, namun, belakangan, dengan semangat go gren (kembali ke alam) menjadi tren berbagai bangunan terutama untuk bangunan cafe dan restoran maupun warung yang mengusung tema alam.

“Biasanya dibuat hiasan atap gasebo, atau rumah-rumah makan di pinggir pantai mas, kalau di sini yang umumnya buat gubug itu,” terang Eko, warga Bektiharjo, Kecamatan Semanding, pemilik usaha produksi welit.

Menurut Eko, welit produksi rumahnya ini pernah dijual hingga negeri Jiran Malaysia, meski bukan dia sendiri yang menjualnya secara langsung. Namun melalui tengkulak yang biasanya mengambil welit dari dia.

“Ya bukan saya sendiri mas, biasanya yang ambil itu orang Surabaya, katanya ada yang dijual sampai ke Malaysia untuk restotan disana,” kata Eko.

Selain warga Surabaya, pemesan welit produksi Eko juga berasal dari Jombang, Ponorogo dan Banyuwangi serta Trenggalek.

” Kalau orang tengkulak dari Banyuwangi, katanya untuk konsumen di Bali untuk bangunan cafe, ” sabung Eko.

Dalam satu hari, Eko yang dibantu beberapa orang pekerja memproduksi atap daun welit hingga ratusan lembar. Atap welit itu biasanya diambil oleh pemesan atau pengepul satu hingga dua minggu sekali.

“Sehari bisa empat ratus lembar, tergantung berapa orang yang membuat. Sebab, dalams ehari pembuatnya tidak sama, terutama ibu-ibu tidak bisa setiap hari bekerja,” imbuhnya.

Untuk harga, satu bendel atap berisi 50 lembar dihargai Rp15.000. Jumlah tersebut jika dihitung, Eko hanya memperoleh sedikik keuntungan. Sebab bahan baku daun sagu sebagai bahan dasar pembuatan atap juga masih membeli dari warga yang memiliki lahan pohon sagu di sekitar rumahnya.

“Ya untungnya sedikit mas, ini bahan juga masih beli dari warga, soalnya tidak punya lahan sendiri,” katanya.

Ditambahka Eko, selain dijual ke luar daerah, tidak sedikit warga Tuban yang membeli atap hasil produksinya. Biasanya atap welit itu digunakan untuk bangunan kandang peternakan ayam maupun tempat peternakan sejenisnya. (kim)

 

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.