Pelaras Gamelan Jawa Semakin Langka

kotatuban.com– Di tengah modernisasi, alat musik gamelan semakin terpinggirkan dengan alat musik modern. Bahkan, alat musik gamelan peninggalan leluhur ini dimungkinkan akan punah, karena minimnya penglaras (pembuat) gamelan.

Di Tuban, Bumi Wali, tempat Sunan Bonang, wali pecinta gamelan disemayamkan, penglaras kian langka. Jika ada usianya sudah lanjut dan tidak ada generasi penerusnya.

Sebut saja Pak Midi, panggilan akrab Sarmidi seorang pembuat gamelan Jawa di Jl  Ngemplak, Kelurahan Sidorejo, Tuban. Pak Midi bisa disebut sebagai pembuat gamelan Jawa satu-satunya dan terakhir di Tuban, jika aktifitasnya tak ada penerusnya.

Sarmidi satu-satunya penglaras gamelan di Tuban
Sarmidi satu-satunya penglaras gamelan di Tuban

Diusinya yang sudah 58 tahun ini, dia berharap agar memiliki penerus warisan seni gamelan yang makin terpuruk digerus alat musik modern ini. “Sekarang kok mau buat mas, yang mainkan musik ini saja sudah terbatas, anak muda hampir tidak ada,” kata Pak Midi sambil sesekali memukul gamelan untuk menselaraskan nadanya.

Tak dipungkiri,  Kabupaten Tuban merupakan gudang  para seniman karawitan. Dengan seni tradisional tayuban atau lebih dikenal sindir, gamelan merupakan alat musik yang tidak bisa ditinggal dalam setiap pagelaran seni tayub sebagai musik pengiring utama. Namun tak banyak seniman karawitan yang bisa membuat dan menyelaras gamelan.

Sarmidi menceritakan, sepuluh tahun lalu, masih banyak pengerawit yang juga piawai membuat gamelan Jawa. Namun,  seiring waktu para seniman tersebut sudah semakin uzu, sehingga, tidak lagi menggeluti pembuatan gamelan.

Menurut Sarmidi, dulu ada tiga seniman di Tuban yang juga pengerajin gamelan Jawa,  diantaranya Khusaeri kakek Sarmidi, Kurdi dan Sardikun. Tiga orang tersebut kini sudah semakin tua dengan berbagai keterbatasan, sehingga tidak lagi membuat gamelan.  Kini, Sarmidi menjadi jujugan satu-satunya pembuat dan penglaras gamelan jawa di Tuban. “Sekarangya tinggal saya mas, gak tahu setelah saya ini apa ada yang meneruskan atau tidak,” terangnya.

Sarmidi mulai  membuka usaha pembuatan gamelan Jawa di Jl Ngemplak, Kelurahan Sidorejo,  Kecamatan Kota, Tuban sejak 1994 lalu. Keahlianya membuat gamelan warisan dari kakeknya. Keahlihan Sarmidi yang langka ini  memang tak bisa dipelajari setiap orang. Bahkan pengrawit atau pemain gamelan yang tiap hari berhadapan dengan gamelan belum tentu bisa melaraskannya apa lagi membuatnya.

“Tidak hanya pemilik gamelan asal Tuban saja yang butuh menyelaraskan gamelan. Tapi, ada juga dari luar daerah seperti Lamongan, Bojonegoro dan Nganjuk. Tidak semua seniman karawitan bisa membuat gamelan atau menyelaraskan,” sambung Sarmidi.

Sarmidi sebenarnya punya keinginan untuk memiliki penerus pembuat dan penglaras gamelan Jawa, akan tetapi anggota keluarganya tiak ada satupun yang berminat meneruskan keahlian langka ini. Mereka lebih memilih profesi lain ketimbang menjadi pewarisnya.”Tidak ada yang mau mas, keluarga memilih pekerjaan lain,” keluhnya. (kim)

Print Friendly, PDF & Email

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban

1 Comment

  1. kesenian jawa inilah yang harus kita pikirkan bersama..ini tinggalan nenek moyang kita…kenapa diabaikan,emange haram..ya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.