Merasa Terdholimi, Pemilik Warung Minta Perlindungan

kotatuban.com – Merasa terdholimi pemilik warung nasi Mbak Sri, yang berada di tepi jalan gang Asmara, jalan Diponegoro Tuban meminta perlindungan kepada organisasi islam Nahdatul Ulama (NU). Permintaan perlindungan tersebut ditulis dalam bentuk poster oleh pemilik warung Sri Ngatmini.

Tulisan yang ada di warung nasi selatan kantor NU Tuban tersebut antara lain berbunyi “Kami warga NU butuh perlindungan, pribumi mencari keadilan,” dan berbagai tulisan lainnya.

Warung nasi semi permanen yang telah berdiri belasan tahun tersebut berdiri di atas Tanah Negara. Kondisi warung pun tepat menempel ditembok pagar bangunan mewah milik warga yang bernama Sabas Tian Sianto.

Namun, sampai saat ini pemilik warung tidak bisa berjualan seperti biasanya. Karena ada pembongkaran atau perbaikan tembok pagar rumah milik warga itu. Bahkan, sudah seminggu lebih pemilik warung tidak bisa berjualan karena sedang ada perbaikan tembok pagar.

“Seharusnya ada pembicaraan terlebih dahulu sebelum perbaikan tembok pagar, tapi sampai sekarang tidak ada komunikasi, dan kita sudah seminggu lebih tidak bisa jualan” kata pemilik warung ketika ditemui di lokasi, Kamis (31/1).

Ia menceritakan, sudah seminggu lebih tidak bisa jualan disebabkan ada perbaikan tembok pagar milik warga tersebut. Termasuk, kondisi barang yang dijual telah rusak karena dimakan tikus selama seminggu warung tutup.

“Selama warung tutup, bahan-bahan yang dijual, seperti mie telah dirusak tikus,” jelas istri Zamroni, warga Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban itu.

Selain itu, sebelum perbaikan pagar awal, ia menceritakan, dulu telah memasak bahan-bahan makanan yang akan dijual ke warung. Tetapi betapa terkejutnya, ketika bahan makanan akan dibawa ke warung dan ada perbaikan pagar sehingga pemilik harus menanggung kerugian.

“Awalnya rugi Rp 500 ribu, karena sudah masak dari rumah, saat mau jualan ada perbaikan, sehingga tidak bisa jualan,” cerita pemilik warung.

Ia berharap ada kepedulian dan bantuan dana untuk memperbaiki warung agar tidak menempel ke tembok warga lagi. Seban selama ini, pemilik tembok tidak memedulikan, dan perbaikan terus dilakukan tanpa ada komunikasi terlebih dahulu.

“Perbaikan itu jelas mengganggu, termasuk ada debu. Tetapi pemilik rumah tidak pernah mengajak bicara kami. Kalau ada pembicaraan terlebih dahulu kan enak kita bisa siap-siap mau bagaimana,” pungkasnya. (rto)

Print Friendly, PDF & Email

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban