Tiga Desa Ring I SG Mulai Produksi Sarung Tenun

Salah satu perajin sarung tenun di Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek
Salah satu perajin sarung tenun di Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek

kotatuban.com-Kelompok masyarakat di tiga desa Ring I PT Semen Gresik di Kecamatan Kerek, Tuban, mulai memproduksi sarung tenun. Sebelumnya mereka ini telah dilantih untuk membuat sarung tenun.

Pelatihan yang dilakukan perusahaan semen milik negara itu dilakukan sejak pertengahan 2015 lalu. Saat ini warga yang menjadi peserta pelatihan mulai memproduksi sarung tenun dengan merek Sarung Tenun Tuban. Meski sejauh ini produk masih dipasarkan di kalangan terbatas, namun, sudah mampu menambah penghasilan bagi para wanita yang umumnya petani atau buruh tani.

“Sampai saat ini masih dalam pendampigan selama satu tahun setelah pelatihan,” ujar Irfan Arif Abdillah, pendamping program pelatihan sarung tenun Tuban, Selasa (19/07).

Dijelaskan, dalam program pelatihan produksi sarung tenun ini terdapat sedikitnya 30 peserta. Seluruhya merupakan warga ring satu yang tinggal di Desa Mliwang, Kecamatan Tambakboyo, Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek dan Desa Sumberarum, Kecamatan Merakurak. Saat ini 30 orang yang telah mendapat pelatihan tersebut mampu menghasilkan 50 sarung tenun lebih per bulan.

“Sekarang masih terbatas, mengingat perajinnya masih dikatakan belajar. Idealnya untuk menghasilkan satu sarung maksimal 2 hari, namun, sekarang ini rata-rata masih satu minggu untuk satu potong sarung per orang,” terang Irfan.

Tidak hanya pendampingan pelatihan saja sepanjang satu tahun ini. Desain produk, brand hingga pemasaran juga tetap didampingi. Tujuanya agar para ibu yang diberdayakan ini tidak sekedar mampu membuat sarung tenun, namun, juga mampu memasarkan. Dengan harapan mampu tumbuh dan berkembang hingga menjadi pengusaha sarung mandiri.

“Kami dampingi mulai produksi hingga pemasaran, termasuk desain produk dan kemasannya. Sebab, target Semen Gresik, mereka mampu menjadi mandiri nantinya,” tambah Irfan.

Sementara itu, pelatih tenun Tuban, Thioful Khoir mengatakan, memproduksi sarung tenun memang butuh ketelatenan dan keuletan. Apalagi produk ini cukup rumit bagi orang yang baru menggeluti industri tenun. Untuk menjadi penenun professional tidak cukup waktu satu dua bulan, namun, paling sedikit satu tahun.

“Memang target kami semua binaan ini mahir, nanti jika memang ini berhasil tidak hanya menenun, namun, juga akan nada pelatihan lanjutan berupa pembuatan motif dan pengolahan bahan dasar menenun, Kini mereka hanya memproduksi dari bahan setengah jadi,” katanya.

Produksi tenun yang sudah dilaksanakan beberapa bulan terakhir ini dirasakan cukup membantu masyarakat. Terutama kelompok ibu-ibu yang saat ini menjadi perajin sarung tenun. Meski sementara ini pemasaran masih belum ditangani sendiri, mereka juga telah mendapatkan tambahan penghasilan untuk membantu kebutuhan rumah tangga, selain dari pekerjaan utama mereka sebagai petani.

“Peserta semua petani, kalau tidak diladang saat tanam atau panen ibu-ibu disni banyak yang menganggur. Ini bisa menambah penghasilan,” ungkap Kasifa, warga Kedungrejo, Kerek saat menenun.

Ditambahkan, banyaknya penghasilan mereka tergantung banyaknya sarung yang diproduksi, perpotong Rp 50.000, seminggu bisa dapat tiga. Itu pun jika mereka tidak pergi ke ladang untuk bertani.

Para penenun ini berharap, setelah program pelatihan selesai, PT Semen Gresik memberikan pinjaman modal sebagai langkah awal membentuk usaha kelomok mandiri produksi Sarung Tenun. Dengan begitu para ibu memiliki pekerjaan dan mampu mengembangkan usaha baru selain pertanian yang selama ini mereka kerjakan musiman.

“Kalao bisa nanti ada pinjaman modal, soalnya kalau tidak ada modal dari mana mendapatkannya,” harap Kasifa yang juga  Ketua Kelompok Tenun Tuban di Desa Kedung rejo. (kim)

 

 

Print Friendly, PDF & Email

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.