Ratusan Hektar Tanaman Padi di Plumpang Gagal Panen

Tanaman padi terendam air banjir luapan Bengawan Solo
Tanaman padi terendam air banjir luapan Bengawan Solo

kotatuban.com – Ratusan hektar tanaman padi di wialayah Kecamatan Plumpang terancam gagal panen. Sebab, saat padi lagi beranak atau usia sekitar dua bulan. Dengan terendam air hampir dipastikan hasilnya tidak busa maksimal. Bahkan, bukan tidak mungkin batangnya membusuk dan mati.

Sementara itu, berdasarkan data dari kecamatan setempat banjir luapan Avour Kuwu maupuan luapan Bengawan Solo menyebabkan 385 hektar lebih padi milik petani gagal panen. Jumlah tersebut tersebar di Desa Sembungrejo, Plandirejo, Bandungrejo, dan Klotok, Kedungsoko, Kebomlati, Kedungrojo, Plumpang, Penidon, Kepohagung dan Cangkring.

“Memang banjir ini, menyebabkan padi rusak dan gagal panen. Jumlahnya mencapai 385 hektar di beberapa desa terdampak banjir,” jelas Camat Plumpang, Sudarmaji, Senin (29/02).

Jumlah tersebut diperkirakan masih bertambah, sebab banjir hingga kini masih menimpa areal pertanian di sekitarnya.

“Itupun belum final, kami masih terus menghitungnya,” tambahnya.

Besarnya luasan padi yang gagal panen ini, menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi para petani. Bahkan jika dikalkulasi, kerugian sektor pertanian mencapai kisaran Rp5 Milyar.

“Hitung-hitungan kami, setiap hektarnya rugi sebesar Rp15 juta, jadi tinggal dikalikan saja, dengan luasan padi yang gagal panen,” tambah Sudarmaji.

Sayangnya data di lapangan menunjukkan jika para petani di wilayah Kecamatan Plumpamng yang kebanjiran tanamkan mereka tidak diasuransikan. Rata-rata mereka tidak mengetahui jika ada asuransi terkait dengan tanaman pertanian.

“Kami tidak tahu kalau ada asuransi. Sampai sekarang belum ada sosialisasi, baik dari kecamatan maupun Dinas Pertanian Tuban. Kalau petani tahu, saya yakin banyak yang ikut asuransi, sehingga, saat kebanjiran bisa mendapatkan klaim dari asuransi,” tutur Ketua Kelompok Tani Desa Plumpang, Muhtarom. (yit)

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban