Rencana Relokasi Resahkan Pedagang Burung

Pedagang burung khawatir rencana relokasi
Pedagang burung khawatir rencana relokasi

kotatuban.com-Rencana relokasi (pemindahan) pasar burung yang berada di selatan Pasar Baru Tuban membuat sejumlah pedagang burung resah. Mereka khawatir relokasi yang dilakukan Pemkab Tuban itu malah bakal mematikan usaha yang telah lama digelutinya itu.

Lokasi relokasi pasar burung yang direncakan menjadi satu dengan pasar hewan di Jalan Hos Cokro Amonoto Tuban dianggap kurang strategis.

Sejumlah pedagang di pasar burung yang ditemui koatuban.com mengungkapkan, rencana pemindahan pasar burung itu diprediksi tidak akan membuat usaha mereka bertambah lancar. Bahkan, malah menimbulkan kesemerawutan.

“Kami sebenarnya senang kalau pemerintah membuatkan pasar sendiri. Namun, kurang setuju kalau dipindah di pasar hewan. Selain lokasi yang tidak strategis juga akan semerawut jika lokasinya jadi satu dengan pasar sapi,” terang Hanafi salah satu pedagang burung di pasar Baru Tuban, Jumat (21/8).

Menurut Hanafi, lokasi relokasi yang saat ini sudah dalam pembangunan itu terancam nganggur, karena diprediksi akan banyak pedagang yang tida berjualan di tempat itu dengan beragam alasan.

”Alasannya, akses lokasi jauh dengan jalan raya. Pembeli juga pasti enggan ke sana, apalagi bercampur dengan pedagang sapi. Pedagang akan keluar dan berdagang lagi di tempat lain,” keluh nya.

Tidak jauh berbeda diungkapkan Suko Susanto, salah satu pengurus Paguyuban Pedagang Burung Tuban. Pedagang aneka burung kicau itu juga kurang sepakat jika relokasi disatukan dengan pasar sapi. Padahal sebelumnya ditawarkan untuk relokasi di timur pasar baru atau dijadikan satu denga pasar ayam.

Para pedagang berharap, pemerintah mempertimbangkan kembali agar relokasi justru tidak mematikan perekonomian pedagang burung.

“Kami hanya berharap pemerintah mempertimbangkan kembali relokasi pasar burung, jangan sampai mematikan pedagang, ” imbuh Susanto. (kim)

 

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Direkomendasikan untukmu

About the Author: kotatuban